Kau tau?
Aku selalu berdoa semoga tidak bertemu dengan gadis satu almamater. Bilapun bertemu, aku selalu berharap itu berada di dunia luar. Tidak saling mengetahui asal usul kita. Lalu, sama-sama tertawa saat tahu ternyata kita saat almamater.
Kau tau?
Aku tidak pernah mencari seorang gadis satu almamater. Bangku sekolah ini terlalu arogan, terlalu keras, dan terlalu melangit. Seringkali memandang begitu jauh hingga lupa apa yang ada di dekat. Seringkali melihat dari atas dan lupa bahwa kita semua sejajar mata.
Aku tidak pernah mencari. Tapi seperti dulu aku bilang, ‘Jangan Jakarta’. Nyatanya aku justru hidup ditengah-tengahnya. Mungkin benar kata orang, hati-hati terhadap kata-kata sendiri.
Bila saja kita bertemu di dalam almamater sana, mungkin aku sama sekali tidak akan memikirkanmu. Sayangnya ceritanya tidak begitu. Kita harus bertemu dikala hujan. Saat kita sama-sama kalah oleh dingin dan basah air. Saat kita harus bersembunyi di bawah atap-atap yang melindungi kita dari kejaran hujan. Kita bertemu. Pertemuan pertama.